5 Titik Sambung yang Mengejutkan antara Manusia Spiritual di Jalan Profesional dan Maslahah Performa
5 Titik Sambung yang Mengejutkan antara
Manusia Spiritual di Jalan Profesional
dan
Maslahah Performa
Oleh: Dedy Syahrul
Dua buku. Dua penulis. Dua latar belakang yang berbeda.
Manusia Spiritual di Jalan Profesional lahir dari ekosistem pengembangan diri dan korporasi — sebuah ikhtiar menjawab pertanyaan: bagaimana seorang profesional bisa tetap spiritual di tengah tekanan dunia kerja yang makin keras?
Maslahah Performa (MaP) lahir dari riset akademik yang panjang — sebuah disertasi yang kemudian menjadi buku, menjawab pertanyaan: bagaimana sebuah organisasi diukur kinerjanya bukan hanya dari angka keuangan, tapi dari seberapa besar ia memberi kemaslahatan?
Saat saya membaca keduanya secara berdampingan, saya menemukan sesuatu yang mengejutkan: dua buku ini berbicara tentang hal yang sama, hanya dari pintu yang berbeda. Yang satu masuk dari pintu manusianya. Yang satu masuk
dari pintu sistemnya.
Berikut adalah 5 titik sambung yang saya temukan — dan mengapa keduanya perlu dibaca bersama.
Titik Sambung 1: Keduanya Berangkat dari Satu Titik yang Sama — Khalifah
Buku Manusia Spiritual di Jalan Profesional membuka dengan sebuah pertanyaan besar: siapa sebenarnya manusia itu? Jawabannya ada di QS. Al Baqarah: 30 — "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Dari sanalah seluruh bangunan buku ini berdiri. Bahwa seorang profesional sejati bukan sekadar karyawan perusahaan — ia adalah Employee of Allah (EOA), pemegang amanah yang bertanggung jawab kepada Allah, kepada sesama manusia, dan kepada alam. Tiga tanggung jawab yang dalam buku ini disebut sebagai hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam.
Di sisi lain, Maslahah Performa membuka dengan pernyataan yang menggetarkan: "Organisasi diciptakan untuk mewujudkan fungsi manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Oleh karena itu, organisasi harus memberikan kemanfaatan bagi banyak orang."
"Karya ini tidak ragu lagi merupakan kontribusi dalam memahami sufisme dengan etos ekonomi. Ini penting untuk memupus anggapan selama ini, bahwa sufisme membuat kaum muslim menjadi pasif, termasuk khususnya dalam kehidupan ekonomi."
— Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., Pengantar Maslahah Performa
Artinya: keduanya tidak memulai dari teori manajemen. Keduanya memulai dari teologi. Dari keyakinan bahwa aktivitas profesional — sekecil apapun — adalah bagian dari misi kekhalifaan manusia di bumi ini. Inilah fondasi yang sama. Inilah mengapa dua buku dari dua dunia yang berbeda bisa bertemu di satu titik yang dalam.
Titik Sambung 2: Manusianya Dulu, Baru Sistemnya
Saya tidak bisa tidak tersenyum ketika menemukan ini.
Manusia Spiritual di Jalan Profesional menggunakan metafora yang sangat kuat: organisasi seperti kendaraan. Ada tiga unsur yang harus ada sebelum perjalanan dimulai — manusianya (pengendara), kendaraannya (konsep/BMC), dan cara mengendarainya (sistem). Ketiganya disebut sebagai tiga Meta yang mengubah seseorang dan organisasinya.
"Jangan sampai kita memilih orang yang mabuk apalagi kurang waras. Kemudian barulah ikhwal kendaraannya — jangan sampai kendaraannya tidak layak jalan."
— Manusia Spiritual di Jalan Profesional, Bab 3 (Sistem)
Kini buka Maslahah Performa. Firdaus membangun seluruh sistem kinerja organisasi di atas satu keyakinan yang sama: bahwa kinerja organisasi hanya bisa berkelanjutan jika Orientasi Ibadah — dimensi spiritual manusia di dalamnya — menjadi pusat orbit dari semua aktivitas. Ia menyebutnya sebagai "otak bagi orientasi lainnya" dan "mesin penggerak" yang menentukan apakah perjalanan organisasi akan bermakna atau tidak.
Dua metafora, satu pesan: sebelum membangun sistem apapun, benahi dulu dimensi spiritual manusia dan organisasinya. Karena tanpa itu, kendaraan terbaik sekalipun hanya akan melaju tanpa tujuan.
Titik Sambung 3: Ada Tiga Lapis Nilai — dan Spiritual Selalu di Puncak
Salah satu bagian paling berkesan dari Manusia Spiritual di Jalan Profesional adalah ketika buku ini bicara tentang value sebuah produk atau organisasi. Nilai itu, kata buku ini, bertingkat-tingkat:
Rational Value — nilai fungsional, apa yang produk bisa lakukan.
Emotional Value — rasa, loyalitas, koneksi.
Spiritual Value — nilai yang bersifat ideologis, yang membuat seseorang tidak hanya membeli, tapi menjadi pembela.
Buku ini tegas: "Value ini sebenarnya lebih tinggi dibandingkan dengan emotional value. Bahkan seharusnya ini menjadi puncak dari emotional value, dalam bentuk ideologis."
Kini buka Maslahah Performa. Firdaus membangun enam orientasi kemaslahatan. Kalau kita petakan dengan cermat, ada tiga lapisan yang sama: orientasi yang bersifat operasional-rasional, orientasi yang bersifat relasional-emosional, dan di tengah semuanya — menjadi orbit dan sumber energi bagi semua orientasi lain — Orientasi Ibadah sebagai dimensi spiritual yang menentukan makna dari segalanya.
Keduanya sampai pada kesimpulan yang sama: dalam membangun organisasi yang berkualitas, spiritual value bukan akhir dari perjalanan — ia adalah pusat yang menentukan arah perjalanan itu sendiri.
Titik Sambung 4: PDCA Bukan Sekadar Alat — Ia adalah Cara Bergerak Bersama
Manusia Spiritual di Jalan Profesional di Bab 3 memperkenalkan Bisnis Transformasi — sebuah sistem yang diadaptasi dari klausul ISO 9001, dengan prinsip dasar continuous improvement. Jantungnya adalah siklus Plan–Do–Check–Action (PDCA).
Yang menarik, buku ini tidak sekadar menempatkan PDCA sebagai alat teknis. Ia menempatkannya dalam konteks yang lebih dalam:
"Prinsip dasarnya Continuous Improvement, sifatnya bergerak. Semoga dengan terus beradaptasi... di setiap pergerakan ada keberkahan."
— Manusia Spiritual di Jalan Profesional, Bab 3 (Sistem)
Di setiap pergerakan ada keberkahan. Kalimat itu bukan bahasa ISO. Kalimat itu bahasa spiritual.
Maslahah Performa menggunakan siklus PDCA yang sama sebagai tulang punggung sistem kinerjanya, ditambah konsep RADAR (Results–Approach–Deploy–Assess–Refine). Sistem ini, kata Firdaus, harus "berpola pada perbaikan berkelanjutan, bukan sistem yang lebih banyak menyalahkan sesuatu apabila kinerja tidak sesuai harapan."
Titik temunya ada di semangat, bukan di metodologinya. Keduanya percaya bahwa organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus bergerak, terus belajar, terus memperbaiki diri — bukan demi angka, tapi demi makna. Dan dalam Islam, gerakan yang bermakna selalu berujung pada keberkahan.
Titik Sambung 5: EOA dan Orientasi Ibadah — Satu Spirit, Dua Bahasa
Ini yang paling menggerakkan hati saya.
Manusia Spiritual di Jalan Profesional memperkenalkan konsep Employee of Allah (EOA) — seorang manusia yang memandang seluruh aktivitas profesionalnya sebagai ekspresi ibadah. Ia bukan sekadar bekerja untuk gaji. Ia bekerja karena ia adalah khalifah. Ia bekerja karena di tangan oranglah amanah Allah dititipkan.
Maslahah Performa membangun Orientasi Ibadah sebagai fondasi dari seluruh sistem kinerja organisasi. Firdaus mendefinisikannya sebagai "cara pandang atas terpeliharanya agama (hifzu al-din)" — bahwa seluruh gerak organisasi, dari proses bisnis terkecil hingga keputusan strategis terbesar, adalah ekspresi dari bagaimana organisasi itu merawat nilai-nilai agama dalam kesehariannya.
Sekarang perhatikan hubungannya:
EOA di MSDP adalah manusianya — seseorang yang sudah selesai dengan identitasnya sebagai hamba Allah, lalu melangkah ke dunia profesional dengan keyakinan itu sebagai kompas.
Orientasi Ibadah di MaP adalah sistemnya — struktur organisasi yang dibangun agar dimensi ibadah itu bukan hanya ada di dalam hati individu, tapi terlihat dalam cara organisasi bekerja, diukur kinerjanya, dan dipertanggungjawabkan hasilnya.
Seorang EOA yang konsisten akan secara alami membangun organisasi yang ber-orientasi ibadah. Dan organisasi yang ber-orientasi ibadah hanya bisa lestari jika diisi oleh manusia-manusia EOA yang sejati. Keduanya saling membutuhkan. Keduanya saling melengkapi.
Penutup: Dua Buku, Satu Visi
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."
— HR. ath-Thabrani (Pembuka Manusia Spiritual di Jalan Profesional)
Hadits ini ada di halaman pembuka Manusia Spiritual di Jalan Profesional. Dan ia bisa dengan mudah menjadi moto dari Maslahah Performa — karena kemaslahatan yang sejati tidak lain adalah kemanfaatan yang mengalir kepada banyak orang, terus-menerus, bahkan setelah organisasinya tiada.
Jika Manusia Spiritual di Jalan Profesional mengajarkan kita cara menjadi pengendara yang baik — dengan mindset yang jernih, konsep yang matang, dan sistem yang terus bergerak — maka Maslahah Performa memberikan peta jalan yang lengkap: ke mana seharusnya kendaraan itu pergi, dan bagaimana kita tahu bahwa kita sudah sampai.
Keduanya bukan buku yang bersaing. Keduanya adalah buku yang saling memanggil.
Baca yang satu, dan Anda akan semakin rindu membaca yang lain.
Tentang Penulis
Dedy Syahrul adalah penulis buku Manusia Spiritual di Jalan Profesional (PPA Institute, 2022) dan Founder Growth Impact Consulting (GIC). Tulisan ini merupakan refleksi pribadinya setelah membaca Maslahah Performa karya Prof. Dr. Achmad Firdaus, M.Si. (K-Media, 2017).
- Back
- 16/06/2026
- epi_it_akbar



